SBB PW 17/01/2026 Menyimpan jeritan hati para petani sawah yang hingga kini masih berjuang dengan keterbatasan sarana pertanian di dusun waitoso desa kawa kec seram barat kab Seram bagian barat
Salah satu petani, Nur Hayati, menyampaikan keluh kesahnya terkait kesulitan yang selalu dihadapi masyarakat setiap memasuki masa panen padi.
“Setiap musim panen, kami petani di Dusun Waitoso selalu menderita karena tidak adanya mesin komben atau mesin panen padi. Memang ada satu unit, tapi kondisinya sudah rusak dan tidak bisa digunakan,” ujar Nur Hayati dengan nada penuh harap.
Ia menjelaskan bahwa luas lahan sawah di Dusun Waitoso kurang lebih mencapai 80 hektare. Namun, keterbatasan alat panen modern membuat sebagian besar petani terpaksa memanen padi secara manual dengan cara menyewa tenaga manusia.
Kondisi tersebut menyebabkan proses panen menjadi lambat, sehingga tidak sedikit petani mengalami keterlambatan panen yang berujung pada gagal panen.
“Kami hidup dari hasil sawah. Kalau panen terlambat, padi rusak dan hasilnya berkurang. Akhirnya kami yang rugi,” tambahnya.
Nur Hayati juga membandingkan kondisi di Dusun Waitoso dengan desa lainya seperti Desa Gemba dan Desa Waihatu, yang dinilainya telah memiliki cukup banyak mesin pemotong padi.
Menurutnya, perhatian pemerintah seharusnya merata dan tidak hanya terfokus pada desa-desa tertentu saja.
“Kami sangat mendukung program pemerintah pusat terkait ketahanan pangan. Tapi kami mohon kepada dinas terkait, khususnya bidang pertanian, jangan hanya melihat Desa Gemba dan Waihatu. Kami di Dusun Waitoso juga membutuhkan perhatian dan bantuan,” tegasnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sebagian besar petani Dusun Waitoso masih melakukan panen secara tradisional.
Mereka berharap adanya bantuan mesin panen padi dari pemerintah agar hasil pertanian dapat meningkat, kesejahteraan petani terjamin, serta program ketahanan pangan nasional dapat berjalan maksimal hingga ke pelosok desa.. @dy